Kisah Buruh Migran di Hong Kong Penyusun Keberanian
OlehFransisca Ria Susanti
HONG KONG - Ia muncul di layar televisi Hong Kong. Diwawancarai seorang reporter di tengah-tengah reli ratusan orang yang menggelar tuntutan penetapan standar upah bagi pekerja lokal Hong Kong, juga buruh migran sektor rumah tangga.Bicaranya kalem, tak meledak-ledak. Ia sama sekali tak punya bakat menjadi orator. Namun, pesannya jelas, pemerintah Hong Kong diminta menghargai hak buruh migran yang bekerja di sektor rumah tangga. Namanya Sartiwen. Wajahnya akrab di kalangan buruh migran asal Indonesia, karena kerap muncul di halaman koran, layar televisi, bahkan sempat diprofilkan oleh sebuah majalah di Singapura akhir Desember lalu. Namun, sikapnya yang low profile, membuat tak banyak orang tahu bahwa perempuan kelahiran Banyumas 27 Januari 1974 ini adalah juga Ketua Indonesian Migrants Workers Union (IMWU), satu-satunya serikat buruh migran asal Indonesia yang terdaftar di Hong Kong.Di bawah bendera IMWU, Sartiwen memiliki 7.000 anggota yang sadar tentang hak-hak mereka. Ia akrab dengan para anggota parlemen Hong Kong yang memiliki kepedulian terhadap nasib buruh migran, juga selalu mendapat undangan khusus untuk hadir dalam acara yang digelar pemerintah Hong Kong. Ironisnya, di mata para pejabat Indonesia di Hong Kong, IMWU hanya dipandang sebelah mata karena suaranya terlalu vokal saat mengkritik kebijakan pemerintah Indonesia yang dianggap merugikan hak buruh migran.Kesadaran Sartiwen untuk terlibat dalam roda organisasi berawal dari sebuah ketaksengajaan. Saat itu, April 1999, sebuah peringatan hari Kartini yang digelar di lapangan Victoria Park, Causeway Bay, Hong Kong menarik perhatiannya. Ia baru bekerja beberapa bulan di majikan barunya, setelah majikan pertamanya yang ia ikuti sejak Juni 1998, tak lagi mempekerjakannya karena bangkrut. Di acara tersebut, Sartiwen bertemu Musafinah, kawan sekampungnya yang lebih dari 10 tahun tak pernah berjumpa. Lewat Musafinah, Sartiwen diperkenalkan dengan Indonesia Group, sebuah kelompok yang beranggotakan sejumlah perempuan yang rutin menggelar diskusi guna mencari solusi bagi permasalahan yang menimpa buruh migran asal Indonesia. Sartiwen pun mulai rutin hadir dalam pertemuan mereka. Ia mulai tahu bahwa potongan sebesar HK$ 21.000 (sekitar Rp 2,4 juta) yang dibebankan padanya oleh agen penempatan tenaga kerja, bukanlah suatu hal yang boleh diterima begitu saja.“Begitu tahu soal ini, saya menghentikan membayar cicilan ke agen saat mencapai jumlah HK$ 17.000,” kisahnya. Sang agen, menurutnya, tak berkutik saat menyadari bahwa Sartiwen telah menjadi anggota sebuah kelompok yang paham bagaimana cara memperjuangkan hak-hak mereka.Pada 20 Oktober 1999, Sartiwen menjadi penanda tangan ketujuh yang membuat Indonesia Group memenuhi syarat guna mendaftarkan diri sebagai serikat buruh di Hong Kong. Tempat Mengadu Dalam dua periode kepemimpinannya, IMWU menjadi sebuah organisasi yang namanya cukup dikenal, bahkan di luar Hong Kong. Sejumlah event internasional terkait dengan buruh migran selalu menyertakan IMWU sebagai salah satu delegasi. Sidang ke-36 Komite Antikekerasan terhadap Perempuan (CEDAW) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang digelar di New York, Agustus 2006 lalu, misalnya, mengundang IMWU sebagai salah satu delegasi. Sayang, Sartiwen tak bisa hadir. Sebagai ganti, Sekjen IMWU Eni Yuniar yang juga berprofesi sebagai pembantu rumah tangga terbang ke New York. Duduk bersama delegasi pemerintah dan parlemen Hong Kong serta sejumlah organisasi nonpemerintah (Ornop), Eni pun bicara soal permasalahan buruh migran asal Indonesia yang ada di Hong Kong. “Banyak undangan event internasional yang ditujukan ke IMWU. Sayangnya, saya harus minta izin jauh-jauh hari kepada majikan agar bisa pergi,” ungkap Sartiwen. Posisi sebagai pembantu rumah tangga memang menjadikan aktivitas organisasi bukan hal yang gampang. Namun, Sartiwen tak patah semangat. November 2006 lalu, ia akhirnya bisa pergi ke Amsterdam, menghadiri sebuah konferensi internasional tentang buruh migran. Saat saya bertemu dengannya, akhir Desember lalu, sulung dari empat bersaudara ini sedang sibuk mencari majikan baru. Bukan karena ia tak betah dengan majikan lamanya yang telah mempekerjakannya selama enam tahun terakhir, tapi karena ia ingin terlibat total dalam organisasi.“Di majikan sekarang, saya hanya bisa libur dua kali dalam sebulan karena harus mengurus dua anaknya yang masih kecil. Padahal, saya butuh waktu lebih banyak di organisasi,” terangnya. Ia pun “mengiklankan” dirinya di internet. Sejumlah majikan asal Eropa yang menetap di Hong Kong pun mengontaknya, tapi Sartiwen masih menimbang. “Mereka tertarik merekrut saya karena saya bekerja pada majikan yang sama selama enam tahun. Meski saya bilang saya tak bisa masak, tapi mereka tetap berniat mengambil saya. Karena mereka percaya saya orang baik,” ujarnya polos. Mereka juga bersedia memberikan libur sekali dalam sepekan sesuai dengan aturan yang ditetapkan pemerintah Hong Kong. Namun, Sartiwen ragu.“Majikan saya yang sekarang orangnya baik. Meski hanya memberi libur dua kali sebulan, jadwal libur lain yang tak bisa saya ambil diganti dengan uang. Ia minta saya bersabar enam bulan lagi sampai anaknya agak besar, dan memberikan lagi libur saya sekali dalam seminggu,” ungkapnya. Permohonan majikannya agaknya meluluhkan hati Sartiwen. Ia khawatir belum tentu akan mendapatkan majikan yang baik jika ia pindah kerja. Sikap tak enak hati Sartiwen ini kerap berimbas saat mengelola serikat buruhnya. Beberapa anggotanya kadang dibuat gemas dengan sikap ini. Namun agaknya, dengan cara ini, Sartiwen mampu secara bertahap menyusun keberanian kawan-kawannya dan selalu menjadi tempat mengadu bagi para buruh migran yang bermasalah, tanpa mereka khawatir dianggap tak becus atau bodoh. Perempuan yang hanya sempat menyelesaikan pendidikan formal hingga SMP ini tahu bagaimana cara bersikap terhadap kawan-kawannya. “Saya berasal dari keluarga miskin. Jadi, saya tahu bagaimana rasanya hidup susah,” ujarnya. n
Copyright © Sinar Harapan 2003
Copyright © Sinar Harapan 2003
1 comment:
Assalamu alaikum warohmatullahi wabarakatu.
Saya ingin berbagi cerita siapa tau bermanfaat kepada anda bahwa saya ini seorang TKI dari johor bahru (malaysia) dan secara tidak sengaja saya buka internet dan saya melihat komentar bpk hilary joseph yg dari hongkong tentan MBAH WIRANG yg telah membantu dia menjadi sukses dan akhirnya saya juga mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah beliau mau membantu saya untuk memberikan nomer toto 6D dr hasil ritual beliau. dan alhamdulillah itu betul-betul terbukti tembus dan menang RM.457.000 Ringgit selama 3X putaran beliau membantu saya, saya tidak menyanka kalau saya sudah bisa sesukses ini dan ini semua berkat bantuan MBAH WIRANG,saya yang dulunya bukan siapa-siapa bahkan saya juga selalu dihina orang dan alhamdulillah kini sekaran saya sudah punya segalanya,itu semua atas bantuan beliau.Saya sangat berterimakasih banyak kepada MBAH WIRANG atas bantuan nomer togel Nya. Bagi anda yg butuh nomer togel mulai (3D/4D/5D/6D) jangan ragu atau maluh segera hubungi MBAH WIRANG di hendpone (+6282346667564) & (082346667564) insya allah beliau akan membantu anda seperti saya...
Post a Comment