Tuesday, January 8, 2008

KISAH BURUH MIGRAN DI HONGKONG

Kisah Buruh Migran di Hong Kong

OlehFransisca Ria SusantiHONG KONG – Pengumuman itu muncul di dua tabloid berbahasa Indonesia yang terbit di Hong Kong. Isinya, seorang bernama Kris DS kehilangan tas berisi laptop, kamera, USB, KTP, kartu pers, kartu ATM dan dompet dengan uang cash sebesar HK$ 4.000 (sekitar Rp 4,6 juta). Ia meminta dengan sangat agar penemu tas itu mengembalikan dokumennya, terlebih USB dan laptop. Di luar itu, sang penemu boleh mengambil miliknya. Tapi harapan Kris sia-sia. Saat saya bertemu dengannya, sekitar sebulan setelah hilangnya tas tersebut, ia masih kelihatan kusut. “Seluruh tulisanku ada di situ, Mbak. Termasuk tulisan yang kupersiapkan untuk tiga buku,” keluhnya.Nama lengkapnya Kristina Diani Safitri, tapi ia lebih suka menyingkatnya menjadi Kris DS saat mencantumkan di bawah artikel yang ia buat. Gayanya tomboi. Di kalangan buruh migran asal Indonesia yang bekerja di Hong Kong, namanya cukup dikenal. Orang mengenalnya sebagai jurnalis. Tulisannya kerap dimuat di sejumlah majalah dan tabloid berbahasa Indonesia yang terbit di Hong Kong, mulai dari Indo Helper, Liberty, hingga Apa Kabar. Ia bahkan sempat menjadi kontributor tetap untuk Indo Helper, sebelum kemudian pindah ke Apa Kabar hingga saat ini. Kris tak menyangka bahwa kepergiannya ke Hong Kong telah memberinya peluang untuk menekuni bakat menulisnya yang ia pupuk sejak SMA.“Saat saya berangkat ke Hong Kong, saya membayangkan bahwa saya hanya akan menjadi pembantu rumah tangga. Sibuk dengan urusan nyuci, masak, dan bersih-bersih rumah,” ungkap perempuan kelahiran Kepanjen, Malang 27 tahun lalu ini. Namun, tak seluruh prasangkanya benar. Majikan tempat ia bekerja ternyata bagian dari komunitas intelektual di Hong Kong. Membaca adalah bagian dari rutinitas keseharian mereka saat berada di rumah. Ini membuat Kris mendapat perhatian mereka saat ia ditemukan tengah membaca buku di dalam kamar setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah. Mereka kemudian berinisatif membelikan Kris majalah Liberty, sebuah majalah berbahasa Indonesia yang bisa dibeli di Hong Kong. “Padahal, saya sempat takut membeli majalah atau tabloid karena khawatir majikan melarang saya membaca,” ungkapnya. Kekhawatiran Kris wajar karena banyak buruh migran yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dilarang majikannya membaca hingga mereka harus sembunyi-sembunyi.Dari majalah Liberty pemberian majikan inilah, Kris kemudian memiliki keberanian untuk menulis. Ia memulainya dengan membuat coretan di atas kertas yang berisi kisah-kisah yang ia alami. Kertas bertulis tangan itu kemudian ia kirim ke redaksi Liberty dan dimuat. Tak terbayangkan senang hati Kris. Ia tunjukkan tulisan pertamanya yang dimuat di majalah Liberty tersebut ke majikannya. Honor sebesar HK$ 250 (Rp 290.000) yang ia terima untuk tulisan tersebut pun buru-buru ia kirim ke kampung. Potret Buruh MigranPemuatan tulisan di majalah Liberty itu memicu Kris untuk terus menulis. Ia tak peduli apakah tulisan itu akan mendapat honor atau tidak. Ia menulis apa saja dan mengirimnya dalam bentuk surat pembaca ke semua media cetak berbahasa Indonesia yang ada di Hong Kong. Mayoritas surat pembaca itu berkisah tentang nasib para buruh migran Indonesia yang ia jumpai dan kendala yang mereka hadapi untuk bertahan di Hong Kong. Hingga kemudian tabloid Indo Helper merekrutnya sebagai kontributor. Tulisan Kris pun mulai muncul rutin. Ia bertutur dalam bahasa yang enak dibaca. Semua bercerita tentang nasib buruh migran yang selalu diperlakukan tak lebih dari komoditas barang dagangan. Ia kemudian diserahi tanggung jawab untuk menggarap laporan khusus. Kris merasa tertantang. Ia mengejar berita yang bukan “biasa”, mewawancarai sejumlah buruh migran yang terpaksa menjadi pekerja seksual, masuk dalam kehidupan malam di pusat-pusat hiburan, dari Wanchai hingga Star Ferry. Ia juga menelisik sisi lain buruh migran bergaya tomboi yang memilih hidup sebagai lesbian karena dendam terhadap pengkhianatan pacar atau suami. Juga karena sulitnya mendapat perhatian dari makhluk lelaki sebangsa yang sulit didapat di Hong Kong. Artikel laporan khusus sebanyak tiga halaman tabloid selalu menjadi pekerjaan yang menyenangkan bagi Kris. Hingga kemudian sebuah peristiwa pernikahan sejenis yang ia singkap dalam laporan khusus mendapat kritik dan protes dari sesama buruh migran yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga seperti dirinya. Ia dituding membuka aib. Ia dianggap tak punya hati. Ia dijauhi kawan-kawan dekatnya.Kris pun patah arang. Ia memutuskan hengkang dari Indo Helper, bahkan mulai berhenti menulis. Namun ternyata keinginan menulis lebih kuat dari apapun. Seorang aktivis dari Solidaritas Buruh Migran Indonesia (SBMI) meyakinkan dia bahwa menulis adalah bagian dari perjuangan. Bahwa menulis soal nasib buruh migran adalah sama tingkatannya dengan membela mereka di lembaga-lembaga advokasi yang kini tumbuh menjamur. Kris pun berubah pikiran. Kini, sebagai kontributor Apa Kabar, ia punya rubrik tetap yang berisi tulisan panjangnya tentang nasib para buruh migran, termasuk mereka yang bermasalah dan berada di rumah-rumah penampungan.Sesekali, ia mencoba menulis cerita pendek. Namun, menurutnya, hal itu lebih sulit dibanding menulis kisah nyata yang ada di depan matanya. Meskipun satu-satunya cerpen yang berhasil ia buat sudah diterbitkan dalam antologi cerpen buruh migran bertajuk “Nyanyian Imigran”. “Saya ingin membuat buku tentang buruh migran,” ujarnya saat saya mengajaknya minum kopi yang tak legit di sebuah warung Indonesia di ruas Causeway Bay. Sebuah obsesi yang harus dia rintis ulang setelah semua naskahnya hilang gara-gara teledor menaruh tas. n

No comments: